Sabtu, 12 November 2016

Ahlus Sunnah wal Jama'ah

            Ahlus sunnah wal jama’ah adalah golongan yang kelak bisa masuk surga. Banyak orang mengaku ahlus sunnah wal jama’ah akan tetapi tidak tahu apa itu ahlus sunnah wal jama’ah. Ahlus sunnah wal jama’ah terdiri dari tiga kata, yaitu alhlu, as-sunnah dan al-jama’ah dan juga satu huruf aṭof (kata sambung), yaitu wawu. Ahlu artinya keluarga, golongan penganut atau pengikut, as-sunnah artinya peri kehidupan atau perilaku yang biasa disebut ḥadiṡ (ajaran Nabi Muhammad yang berupa ucapan, perbuatan dan pengakuan atau ketetapannya) dan al-jama’ah artinya kelompok atau perkumpulan, maksudnya apa saja yang telah disepakati oleh khulafaur rosyidin (Abu Bakar, ’Umar bin Khoṭṭob, ’Uṡman bin Affan dan ’Ali bin Abi olib). Nabi Muhammad SAW. bersabda:
مَنْ أَرَادَ بُحْبُوْحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ ﴿السنن الكبرى للنسائي - ج ٨ ص ٢٨٦
Barang siapa yang menghendaki mewahnya kehidupan surga maka hendaklah ia mengikuti jama’ah. As-Sunan Al-Kubro Lin-Nasai Juz 8 Hal 286﴿.
          Referensi sunnah dan jama’ah seperti redaksi berikut:
فَالسُّنَّةُ مَا سَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ وَالْجَمَاعَةُ مَا اتَّفَقَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ فِيْ خِلَافَةِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ. ﴿الدولة الزنكية - ج ٣ ص ٢٩
As-Sunnah adalah apa-apa yang telah diajarkan oleh Rosululloh SAW.. Al-Jama’ah adalah apa-apa yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi SAW. pada masa kekholifahan imam-imam empat khulafaur rosyidin, yang telah mendapat petunjuk. Semoga Alloh merahmati mereka semua. Ad-Daulah Az-Zenkiyah Juz 3 Hal 29﴿.
          Nabi Muhammad SAW. dengan jelas menuturkan bahwa yang layak diikuti adalah jama’ah. Jadi, apakah bisa dibenarkan orang yang mentiadakan sahabat sebagai pedoman? Bahkan ada juga yang mengkafirkan sahabat, padahal Nabi Muhammad menyuruh mengikuti sahabat.
          Di zaman akhir ini banyak sekali perbedaan yang membuat orang awam kebingungan. Di bawah ini ada sedikit urain tentang ahlus sunnah wal jama’ah sebagai pemecah kebingungan yang penulis sengaja menyajikan dengan referensi tertulis dan disertai marji’nya (sumbernya).
وَبِالْجُمْلَةِ أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ أَهْلُ الْحَدِيْثِ وَمَنِ انْتَسَبَ إِلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ مِنْ أَهْلِ التَّفْسِيْرِ وَالْحَدِيْثِ وَالْفِقْهِ وَالتَّصَوُّفِ كَالْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ وَأَئِمَّةِ أَتْبَاعِهِمْ وَالطَّوَائِفِ الْمُنْتَسِبِيْنَ إِلَى الْجَمَاعَةِ كَالْكُلَّابِيَّةِ وَالْكَرَّامِيَّةِ وَالْأَشْعَرِيَّةِ وَالسَّالِمِيَّةِ يَقُوْلُوْنَ: إِنَّ كَلَامَ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوْقٍ وَالْقُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوْقٍ. وَهَذَا هُوَ الْمُتَوَاتِرُ الْمُسْتَفِيْضُ عَنِ السَّلَفِ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ وَغَيْرِهِمْ. ﴿منهاج السنة النبوية - ج ٢ ص ٣٦٣
Dan secara global, ahlus sunnah wal jama’ah adalah ahli ḥadiṡ dan orang yang terkategori ke sunnah dan jama’ah, dari ahli tafsir, ḥadiṡ, fiqh dan taṣowwuf; seperti imam empat, imam-imam pengikut imam empat dan golongan yang terkategori ke jama’ah; seperti kullabiyyah, karromiyyah, asy’ariyyah dan salimiyyah, yang sama-sama berkata: sesungguhnya firman Alloh bukan makhluk, dan Al-Qur'an adalah firman Alloh yang bukan makhluk. Ini ialah yang berturut-turut lagi tersiar dari salaf dan imam-imam dari ahlul bait dan selain ahlul bait. Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah Juz 2 Hal 363﴿.
          Setelah mengetahui tentang ahlus sunnah wal jama’ah maka secepatnya diikuti agar kelak bisa selamat di akhirat dan bisa menempati tempat terindah, yakni surga yang dipersiapkan khusus untuk orang-orang yang taat kepada-Nya. Teorinya memang mudah tetapi prakteknya sulit, karena sukar mencari tahu siapa orang yang berpegang teguh kepada sunnah dan jama’ah. Apabila berpegangan ḥadiṡ Nabi Muhammad maka pasti akan menemukan titik terang dan tidak bingung dalam berbagai perbedaan. Simak sabda Nabi Muhammad di bawah ini:
...حَدَّثَنِي أَبُو خَلَفٍ الْأَعْمَى قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلَافًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ ﴿سنن ابن ماجه - ج ٢ ص ١٣٠٣
...Abu Kholaf Al-A‘ma bercerita kepadaku, dia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Aku mendengar Rosululloh SAW. bersabda: Sesungguhnya umatku tidak berkumpul (sepakat) atas kesesatan, lalu apabila kalian melihat perbedaan maka senantiasalah (mengikuti) golongan mayoritas. Sunan Ibnu Majah Juz 2 Hal 1303﴿.
          Ahlus sunnah wal jama’ah adalah orang yang mengikuti golongan mayoritas disaat banyak perbedaan. Ḥadiṡ di atas ada hubungan erat dengan ḥadiṡ di bawah ini:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى هَذِهِ الْأَعْوَادِ، أَوْ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ: "مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ، وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ، وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ" قَالَ: فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ: "عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ!" قَالَ: فَقَالَ رَجُلٌ: مَا السَّوَادُ الْأَعْظَمُ؟ فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ: هَذِهِ الْآيَةُ فِي سُورَةِ النُّورِ {فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ (النور: ٥٤)} ﴿مسند أحمد - ج ٣٠ ص ٣٩٢
Dari Nu‘man bin Basyir berkata: Rosululloh SAW. bersabda atas tongkat ini atau di atas mimbar ini: "Barang siapa tidak mensyukuri perkara sedikit maka tidak akan mensyukuri perkara banyak, dan barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia maka tidak akan bersyukur kepada Alloh, dan menceritakan nikmat Alloh ialah syukur dan meninggalkannya ialah kufur, dan jama’ah adalah rahmat dan perpisahan adalah ażab". Periwayat berkata: Abu Umamah Al-Bahiliy berkata: "Senantiasalah mengikuti golongan mayoritas!" Periwayat berkata: Seorang laki-laki berkata: Apa itu golongan mayoritas? Abu Umamah berkata: Ayat ini di dalam surat An-Nur {Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rosul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu (An-Nur: 54)}. Musnad Aḥmad Juz 30 Hal 392﴿.
          Kenapa yang harus diikuti adalah golongan mayoritas? Jawabannya; karena tidak akan terjadi sebuat kesepakan atas kesesatan. Bila para ’ulama diberbagai daerah mempunyai pendapat yang sama, berarti kesamaan itu ialah petunjuk dari Alloh SAW., sebab Alloh SWT. tidak akan mengumpulkan para ’ulama dalam kesesatan. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: لَا يَجْمَعُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ عَلَى الضَّلَالَةِ أَبَدًا وَقَالَ: يَدُ اللّٰهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ فَاتَّبِعُوا السَّوَادَ الْأَعْظَمَ، فَإِنَّهُ مَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ ﴿المستدرك على الصحيحين للحاكم - ج ١ ص ١٩٩
Dari Ibnu Umar berkata: Rosululloh SAW. bersabda: Alloh selamanya tidak mengumpulkan umat ini (Muhammad) atas kesesatan, dan Ibnu Umar berkata: Kekuasaan (kenikmatan) Alloh berada pada jama’ah, maka ikutilah golongan mayoritas, maka barang siapa menyendiri maka menyendiri di dalam neraka. Al-Mustadrok ’Alaṣ Ṣoḥiḥain Lil Ḥakim Juz 1 Hal 199﴿.
          Nabi Muhammad memerintahkan agar mengikuti golongan mayoritas dan memberi peringatan bahwa orang yang menyendiri akan amsuk neraka. Maka dari itu jagan sampai bercerai berai karena hanya satu golongan yang nantinya akan selamat di akhirat. Hal itu sudah dikemukakan oleh Nabi Muhammad SAW. dalam sebuah adi:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: تَفَرَّقَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَأُمَّتِي تَزِيدُ عَلَيْهِمْ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا السَّوَادَ الْأَعْظَمَ ﴿المعجم الأوسط - ج ٧ ص ١٧٥
Dari Abi Umamah berkata: Aku mendengar Rosululloh SAW. bersabda: Bani israil bercerai-berai menjadi tujuh puluh satu golongan, nasrani bercerai-berai menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku golongannya lebih (banyak) daripada mereka, semuanya masuk neraka kecuali golongan mayoritas. Al-Mu‘jam Al-Ausaṭ Juz 7 Hal 170﴿.
          Yahudi terpecah belah, Nasrani terpecah belah, bahkan umat Islam juga terpecah belah. Lalu siapa yang akan selamat dan menempati surga kelak? Yaitu orang-orang yang mengikuti golongan mayoritas. Siapakah golongan mayoritas? Jawabannya ada di bawah ini:
ش - (السواد الأعظم) أي الجماعة الكثيرة. فإن اتفاقهم أقرب إلى الإجماع. قال السيوطي في تفسير السواد الأعظم أي جماعة الناس ومعظمهم الذين يجتمعون على سلوك المنهج المستقيم. والحديث يدل على أنه ينبغي العمل بقول الجمهور ﴿سنن ابن ماجه - ج ٢ ص ١٣٠٣
Keteranagan - (As-Sawadul A‘ẓom) artinya jama’ah banyak. Sesungguhnya kesamaan jama’ah banyak adalah paling mendekati ke ijma’ (pembulatan suara). As-Suyuṭiy berkata di dalam masalah penjelasan sawad a‘ẓom, artinya: jama’ah manusia dan mayoritas, yaitu orang-orang yang berkumpul atas perilaku ajaran yang lurus. Ḥadiṡ (itu) menunjukkan bahwa sesungguhnya seyogya mengamalkan ucapan atau fatwa kebanyakan ’ulama. Sunan Ibnu Majah Juz 2 Hal 1303﴿.
          Golongan mayoritas adalah kelompok terbanyak yang mengikuti ajaran yang lurus. Kelompok banyak yang tidak mengikuti jalan yang lurus maka bukan disebut golongan mayoritas yang harus diikuti. Yang menjadi titik tekan adalah orang-orang yang berada pada jalan lurus, seperti penjelasan berikut:
قال السندي: قوله: (فإن تولَّواْ فإنما عليه ما حمِّل): ظاهره أنه أراد أن من أطاع الله ورسوله، فهم السواد الأعظم، قليلين كانوا أو كثيرين، والله تعالى أعلم. ﴿مسند أحمد - ج ٣٠ ص ٣٩٣
As-Sindiy berkata: Firman Alloh (Faiŋ tawallau fainnamâ ’alaihi mâ ḥummila: “Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rosul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya”: sisi luarnya yaitu sesungguhnya orang yang taat kepada Alloh dan rosul-Nya maka mereka adalah golongan mayoritas, baik sedikit atau banyak, wallôhu a’lam. Musnad Aḥmad Juz 30 Hal 393﴿.
          Walaupun hanya orang sedikit apabila yang diikuti adalah Alloh dan Rosul-Nya maka bisa disebut “As-Sawadul A’ẓom”, terlebih apabila yang mengikuti Alloh dan Rosul-Nya adalah kebanyakan orang. Penjelasan lebih mendalam tentang “As-Sawadul A’ẓom” ialah sebagai berikut:
فَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ افْتَرَقُوا عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَالنَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَإِنَّ أُمَّتِي سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا عَلَى الضَّلَالَةِ إِلَّا السَّوَادَ الْأَعْظَمَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا السَّوَادُ الْأَعْظَمُ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي، مَنْ لَمْ يُمَارِ فِي دِينِ اللَّهِ تَعَالَى وَلَمْ يُكَفِّرْ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ التَّوْحِيدِ بِذَنْبٍ ﴿الشريعة للآجري - ج ١ ص ٤٣١
Maka sesungguhnya bani israil bercerai-berai menjadi tujuh puluh satu golongan, nasrani menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya umatku akan bercerai-berai menjadi tujuh puluh tiga golongan, semua sesat kecuali golongan mayoritas. Para sahabat bertanya: Wahai Rosul Alloh, siapa golongan mayoritas? Rosul menjawab: yaitu orang yang mengamalkan perkara yang aku dan sahabatku mengamalkannya, orang yang tidak menentang agama Alloh ta’ala dan tidak mengkafirkan seseorang dari penganut tauhid sebab sebuah dosa. Asy-Syari’ah Lil Ajiriy Juz 1 Hal 431﴿.
          Jika ada yang mengaku ahlus sunnah wal jama’ah tetapi mencaci maki sebagian sahabat maka ia bukan ahlus sunnah wal jama’ah, apalagi yang mudah mengkafir-kafirkan orang Islam. Lihatlah keterangan di bawah ini supaya lebih mantap:
ولو سألت الجهال عن ذلك لقالوا: جماعة الناس ولايعلمون أن الجماعة عالم متمسك بالكتاب والسنة ﴿مشيخة دانيال - ج ١ ص ٥
Dan kalau kamu bertanya ke orang-orang bodoh tentang demikian itu (golongan mayoritas) maka mereka mengatakan: jama’ah manusia, mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya yang dimaksud adalah orang yang ’alim yang berpegang dengan kitab dan sunnah. Masyyakhotu Daniyal Juz 1 Hal 5﴿.
          Kalau mau mengikuti ahlus sunnah wal jama’ah maka ikutilah orang ’alim yang berpegang teguh kepada kitab suci Al-Quran dan sunnah (ḥadiṡ) Nabi Muhammad SAW.. Kenapa harus mengikuti orang ’alim? Kenapa tidak langsung kembali kepada Al-Quran dan Ḥadiṡ?
          Setiap Alloh SWT. menurunkan kitab suci (Al-Quran, Tauroh, Zabur dan Iŋjil) pasti Alloh SWT. juga mengutus seorang Rosul. Kitab suci sebagai buku pedoman dan Rosul sebagai guru yang menjelaskan. Seperti lazimnya di dunia pendidikan, baik formal maupun non formal, tidak cukup hanya dengan mempelajari buku-buku saja, tetapi harus ada guru yang membimbing. Demikian juga kitab suci, harus ada seorang ustaż (guru) yang mumpuni ilmunya sebagai pembimbing supaya tidak salah dalam memahami. Jika yang benar adalah langsung kembali kepada Al-Quran dan Ḥadiṡ, tidak boleh mengikuti ’ulama, dan seorang ustaż tidak diperlukan, kenapa Alloh SWT. mengutus Rosul?
          Bagi orang yang ilmunya mumpuni memang bisa dibenarkan jika langsung kembali ke Al-Quran dan Ḥadiṡ. Lalu bagi orang awam tentu tidak bisa dibenarkan jika langsung kembali ke Al-Quran dan Ḥadiṡ karena akan menimbulkan kesalahfahaman yang fatal. Orang awam itu seharusnya mengikuti orang alim (’ulama), dan hanya ’ulama yang boleh langsung berpedoman Al-Quran dan Ḥadiṡ.
          Sebelum Al-Quran diturunkan bangsa Arab adalah orang termahir tentang bahasa arab. Bahkan orang Arab sangat banyak yang pandai sastra arab. Al-Quran diturunkan dengan bahasa arab di negara yang bangsanya paling banyak mengetahui bahasa arab. Alloh SWT. pada waktu menurunkan Al-Quran juga disertai mengutus Rosul (Muhammad SAW.), padahal orang Arab bisa berbahas arab dengan baik. Alloh tidak menyuruh bangsa Arab langsung belajar Al-Quran, tetapi menyuruh iman kepada Rosul dan belajar Al-Quran kepadanya. Rosul itulah yang menjelaskan isi dan kandungan Al-Quran. Alloh SWT. tidak menyuruh orang Arab langsung mempelajari Al-Quran, melainkan menyuruh orang Arab agar belajar Al-Quran dari Rosul. Ini yang menjadi bukti bahwa ’ulama sebagai penerus Rosul yang membawa penjelasan-penjelasan Al-Quran, yang harus diikuti oleh orang awam. Jadi, tidak dibenarkan langsung kembali kepada Al-Quran dan Ḥadiṡ bagi orang awam karena bisa menimbulkan salah dalam memahami.
          Sekarang ini dunia pendidikan semakin maju, ada yang negeri ada yang swasta pula. Siapa yang tidak meyekolahkan anaknya ke lembaga pendidikan di zaman akhir seperti saat ini. Tujuan menyekolahkan anak supaya anaknya dididik oleh guru agar tidak salah ilmu yang diperoleh, karena ilmu tersebutlah yang akan menjadi bekal kehidupan di dunia. Nah, urusan duniawi (bersifat dunia) begitu diperhatikan dan harus digurukan, kenapa urusan ukhrowi (bersifat akhirat) malah gegabah dan tidak digurukan. Pendidikan formal tidak cukup hanya belajar dari buku, apa cukup agama Islam langsung belajar dari Al-Quran dan Ḥadiṡ dengan mengingat Islam diturunkan dengan disertai Rosul sebagai guru besar?
          Mari membuka mata dan telinga untuk menelaah sejarah Nabi Muhammad SAW.. Dahulu Nabi Muhammad membangun Masjid Nabawi dan berserambi. Di serambi ada sejumlah sahabat yang menetap untuk belajar Islam kepada Nabi Muhammad. Sahabat-sahabat itu dinamakan aṣḥabuṣ ṣuffah. Aṣḥabuṣ ṣuffah ini yang menjadi cikal bakal pondok pesantren atau lembagai pendidikan Islam lainnya yang menyebar luaskan Islam. Aṣḥabuṣ ṣuffah tidak langsung mempelajari Al-Quran dan Ḥadiṡ sendiri-sendiri tetapi berguru kepada Nabi Muhammad SAW.. Kalau Al-Quran dan Ḥadiṡ boleh langsung dipelajari orang awam sendiri-sendiri tanpa berguru, pasti Nabi Muhammad SAW. menyuruh pulang aṣḥabuṣ ṣuffah agar mempelajari Al-Quran dan Ḥadiṡ secara langsung dan sendiri-sendiri dirumah. Alhasil kita harus berguru kepada ’ulama, dan tidak boleh langsung kembali ke Al-Quran dan Ḥadiṡ.
          Kembali ke pembahasan ahlus sunnah wal jama’ah, kesimpulan ahlus sunnah wal jama’ah adalah mengikuti apa-apa yang diajarkan Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dengan cara berguru kepada ’ulama.
          Wallôhu aʽlamu biṣ ṣowâb.



Mengeraskan (jahr) dzikir sesudah sholat

Di kalangan awam banyak dan sering terjadi saling bertanya bahkan berdebat tentang tata cara berżikir sesudah ṣolat, dinyaringkan (jahr) atau dipelankan (sirr). Pertanyaan atau perdebatan mereka kebanyakan mentok dikalangan mereka sendiri. Hal itu sangat disayangkan karena pertanyaan atau perdebatan tersebut tidak dibawa ke orang alim sehingga tidak mendapatkan titik temu. Apabila dibawa ke orang alim niscaya akan mendapatkan pencerahan. Terkadang orang yang bertanya atau orang yang mendebat tidak mau diajak ke orang alim untuk mendapatkan jawaban. Yang terpenting ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh SWT. memerintahkan żikir dalam firman-Nya:
فِيْ بُيُوْتٍ أَذِنَ اللّٰهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ﴿النور: ٣٦
(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah Diperintahkan Alloh untuk memuliakan dan disebut nama-Nya di sana, bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang. QS. An-Nur: 36﴿.
            Alloh SWT. memerintahkan żikir (menyebut nama-Nya) di waktu pagi (awalnya hari), maksudnya ṣolat ṣubuḥ dan sore (akhirnya hari), maksudnya ẓuhur, ’aṣar, magrib, dan ’isya'. Perintah żikir ternyata berkenaan dengan waktu ṣolat lima wajib. Ayat diatas menunjukkan tentang żikir-żikir yang sunnah dilaksanakan sesudah ṣolat. Dalam ayat lain Alloh SWT. berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللهِ أَنْ يُّذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ وَسَعَى فِيْ خَرَابِهَا أُولٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوْهَا إِلَّا خَآئِفِيْنَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَّلَهُمْ فِي اْلاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ ﴿البقرة: ١١٤
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Alloh untuk menyebut nama-Nya di dalamnya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Alloh). Mereka mendapat kehinaan didunia dan di akhirat mendapat adzab yang berat. Al-Baqoroh: 114﴿.
            Orang yang melarang żikir di masjid disebut oleh Alloh zalim. Alloh tidak mungkin salah menyebut, apabila ada orang disebut Alloh zalim berarti orang itu memang benar-benar zalim. Maukah anda disebut zalim oleh Alloh SWT.?, bila tidak mau disebut Alloh zalim maka jangan sekali-kali melarang orang berẓikir di masjid. Apabila larangan tersebut dilanggar maka mendapat kehinaan didunia dan di akhirat mendapat adzab yang berat. Na’ûżu billâhi miŋ żâlik.
Bagi anda yang tidak mau bertanya ke orang alim, entah apa alasannya, di bawah ini ada beberapa dalil yang bisa dijadikan pedoman tentang żikir dengan dinyaringkan.
عَنْ أَبِيْ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ يَقُوْلُ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا سَلَّمَ مِنْ صَلَاتِهِ يَقُوْلُ بِصَوْتِهِ الْأَعْلَى "لَا إِلٰهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شيْئٍ قَدِيْرٌ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا باللهِ وَلاَ نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِروْنَ". ﴿مسند الشافعي - ترتيب السندي - (ج ١ ص ٩٩
Dari Abi Zubair bahwa sesungguhnya dia pernah mendengar ’Abdulloh bin Zubair berkata: Rosululloh SAW. apabila telah salam dari ṣolatnya maka beliau mengucapkan dengan suaranya yang tinggi (keras/nyaring) "lâ ilâha illallôhu waḥdahû lâ syarîka lahû, lahul mulku wa lahul ḥamdu wa huwa ’alâ kulli syaiiŋ qodîr. Walâ ḥaula walâ quwwata illâ billâhi walâ na‘budu illâ iyyâhu, lahul faḍlu walahuṡ ṡanâul ḥasanu, lâ ilâha illôhu mukhliṣîna lahud dîna walau karihal kâfirûn. Musnad As-Syafi’i - Tartibus Sanadiy - Juz 1 Hal 99﴿.
...أَنَّ أَبَا مَعْبَدٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ: أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ: أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ المَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ ﴿صحيح البخاري - ج ١ ص ١٦٨، وصحيح مسلم ج ١ ص ٤١٠﴾
...sesungguhnya Aba Ma‘bad budak merdekanya Ibnu ’Abbas mengabarinya: Sesungguhnya Ibnu ’Abbas RAma. mengabarinya: Bahwa sesungguhnya mengeraskan suara żikir sewaktu manusia selesai ṣolat wajib pernah terjadi dimasa Nabi SAW.. Dan Ibnu ’Abbas berkata: Aku lebih tahu demikian itu apabila orang-orang selesai (ṣolat wajib) apabila aku mendengarnya. Ṣoḥih Bukhori Juz 1 Hal 168 dan Ṣoḥih Muslim Juz 1 Hal 410﴿.
            Ḥadiṡ diatas diterangkan oleh Imam Nawawi sebagai dalil disunnahkannya mengeraskan suara żikir sesudah ṣolat dalam karya tulis beliau:
هَذَا دَلِيلٌ لِمَا قَالَهُ بَعْضُ السَّلَفِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالتَّكْبِيرِ وَالذِّكْرِ عَقِبَ الْمَكْتُوبَةِ وَمِمَّنِ اسْتَحَبَّهُ مِنَ المتأخرين بن حزم الظاهري ﴿شرح النووي على مسلم - ج ٥ ص ٨٤﴾
Ini dalilnya perkataan sebagian salaf bahwa sesungguhnya disunnahkan mengeraskan suara dengan takbir dan żikir sesudah ṣolat, dan sebagian dari orang yang mensunnahkannya dari golongan mutaakhirin adalah Ibnu Ḥazmin Aẓ-Ẓohiriy. Syarḥ An-Nawawi ’Ala Muslim Juz 5 Hal 84﴿.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ النَّبِيِّ ﷺ بِالتَّكْبِير ﴿صحيح البخاري - ج ١ ص ١٦٨﴾
Dari Ibnu ’Abbas RAma. berkata: Aku mengetahui selesai ṣolatnya Nabi SAW. dengan takbir. Ṣoḥih Bukhori Juz 1 Hal 168﴿.
            Ḥadiṡ-ḥadiṡ diatas menjadi bukti dan dalil bahwa Nabi Muhammad SAW. juga pernah melakukan żikir dengan suara nyaring atau keras. Bagi anda yang rutin berżikir dengan suara nyaring atau keras, terus rutinkan dan jangan menghina yang tidak mau!. Demikian juga sebaliknya.




Jumat, 15 Juli 2016

Dalil berdo'a sesudah sholat



Alḥamdu lillah, perkembangan Islam makin merata. Di mana-mana sudah dibangun Masjid sebagai pusat peribadahan umat Islam. Hal itu menandakan kesadaran umat Islam menjalankan perintah agama makin tinggi. Perkembangan Islam tidak hanya terjadi di tanah air kita tercinta tetapi di luar negeri pula. Kebenaran ajaran Islam semakin nampak di mata orang awam. Demian juga kesadaran mendirikan ṣolat telah tumbuh di jiwa raga insan muslim.
Orang yang telah tergugah hati nuraninya untuk mendirikan ṣolat juga harus tahu kesunahan-kesunahan sesudah ṣolat. Kesunahan-kesunahan sesudah ṣolat yaitu berżikir dan berdo’a. Kesunahan berżikir sesudah ṣolat telah saya unggah di blog saya (elsunniyu.blogspot.com dengan judul postingan dalil dzikir sesudah sholat). Di kesempatan ini saya mau menuturkan tentang berdo’a sesudah ṣolat beserta dalil-dalilnya. Alloh SWT. berfirman:
{فَإِذا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (٧) وَإِلى رَبِّكَ فَارْغَبْ (٨) [الشرح \ الإنشراح]}. فِيهِ مَسْأَلَتَانِ: الْأُولَى قَوْلُهُ تَعَالَى: (فَإِذا فَرَغْتَ) قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَقَتَادَةُ: "فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ صَلَاتِكَ فَانْصَبْ أَيْ بَالِغْ فِي الدُّعَاءِ وَسَلْهُ حَاجَتَكَ". وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: إِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْفَرَائِضِ فَانْصَبْ فِي قِيَامِ اللَّيْلِ. وَقَالَ الْكَلْبِيُّ: إِذَا فَرَغْتَ مِنْ تَبْلِيغِ الرِّسَالَةِ فَانْصَبْ أَيِ اسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. وَقَالَ الْحَسَنُ وَقَتَادَةُ أَيْضًا: إِذَا فَرَغْتَ مِنْ جِهَادِ عَدُوِّكَ، فَانْصَبْ لِعِبَادَةِ رَبِّكَ. وَعَنْ مُجَاهِدٍ: فَإِذا فَرَغْتَ مِنْ دُنْيَاكَ، فَانْصَبْ فِي صَلَاتِكَ. وَنَحْوُهُ عَنِ الْحَسَنِ. وَقَالَ الْجُنَيْدُ: إِذَا فَرَغْتَ مِنْ أَمْرِ الْخَلْقِ، فَاجْتَهِدْ فِي عِبَادَةِ الْحَقِّ. ﴿تفسير القرطبي - ج ٢٠ ص ١٠٨ - ١٠٩﴾
{Kemudian apabila kamu telah selesai, maka bersungguh-sungguhlah (7). Dan hanya kepada Tuhan-mulah engkau berharap (8). [Asy-Syarḥ / Al-Iŋsyiroḥ]}. Di dalam ayat ini ada dua perkara: Yang pertama firman Alloh ta’ala: Fa iżâ faragta (maka apabila kamu telah selesai), Ibnu ’Abbas dan Qotadah berkata: "Maka apabila kamu telah selesai dari ṣolat maka bersungguh-sungguhlah di dalam berdo’a dan memohonlah kepada Alloh kebutuhanmu". Ibnu Mas’ud berkata: Apabila kamu telah selesai dari kewajiban-kewajiban maka bersungguh-sungguhlah di dalam mendirikan (ṣolat) malam. Al-Kalbi berkata: Apabila kamu telah selesai dari menyampaikan kerasulan maka bersungguh-sungguhlah maksudnya maka mohonlah ampun dosamu dan orang-orang mukmin dan orang-orang mukminat. Ḥasan berkata dan Qotadah berkata lagi: Apabila kamu telah selesai dari memerangi musuh kamu maka bersungguh-sungguhlah beribadah kepada Tuhanmu. Dari Mujahid: Apabila kamu telah selesai dari urusan duniamu maka bersungguh-sungguhlah di dalam ṣolatmu. Dan seperti itu pula dari Ḥasan. Junaid berkata: Apabila kamu telah selesai dari urusan makluq maka bersungguh-sungguhlah di dalam menyembah Alloh. Tafsir Qurṭubiy Juz 2 Hal 108 - 109﴿.
            Berdasarkan tafsiran Ibnu ’Abbas dan Qotadah; sesudah ṣolat di sunnahkan berdo’a. Dalam sebuah ḥadiṡ Rosululloh SAW. bersabda:
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ: يَا مُعَاذُ، وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، وَاللهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَقَالَ: أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ، لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ ﴿سنن أبي داود - ج ٢ ص ٨٦
Dari Mu’aż bin Jabal sesungguhnya Rosululloh SAW. memegang tangannya Mu’ad dan bersabda: Wahai Mu’aż, demi Alloh sesungguhnya aku sungguh menyukaimu, demi Alloh sesungguhnya aku sungguh menyukaimu. Lalu belia bersabda: Aku mewasiatimu wahai Mu’aż, sungguh janganlah kamu meninggalkan ucapan di selesai setiap ṣolat: ALLÔHUMMA A’INNÎ ’ALÂ ŻIKRIKA WA SYUKRIKA WA ḤUSNI ’IBÂDATIKA (wahai Alloh tolonglah aku untuk menyebut-Mu dan mensyukuri-Mu dan memperbaiki ibadah kepada-Mu). Sunan Abi Dawud Juz 2 Hal 86﴿.
            Nabi memerintahkan Mu’aż agar selalu berdo’a setelah ṣolat. Setelah ṣolat adalah salah satu waktu paling terkabulnya do’a, maka dari itu tak aneh kalau Nabi Muhammad mewasiati Mu’aż agar senantiasa berdo’a setiap selesai ṣolat. Ḥadiṡ di atas berkaitan dengan ḥadiṡ Nabi Muhammad SAW.:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ؟ قَالَ: جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ ﴿السنن الكبرى للنسائي - ج ٩ ص ٤٧
Dari Abi Umamah berkata: Aku berkata: Wahai utusan Alloh, do’a mana yang paling didengar? Beliau bersabda: (do’a) di tengah malam dan setelah ṣolat wajib. Sunan Kubro Lil Nasai Juz 9 Hal 47﴿.
            Renungkanlah! Benarkah ucapan orang-orang yang mengatakan "berdo’a setelah ṣolat tidak ada dalilnya dan mengatakan amalan sesat"?. Sungguh rugi besar orang yang tidak mau berdo’a setelah ṣolat wajib, karena waktu yang paling mustajab adalah sesudah ṣolat wajib. Jika ada yang mengatakan berdo’a setelah ṣolat wajib tidak ada dalilnya dan ia tidak mau bertanya kepada orang yang tahu dalilnya berarti ia sendiri yang tersesat karena tidak mau bertanya. Alloh SWT. berfirman:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ﴿الغافر \ المؤمن: ٦٠﴾
Dan Tuhan-mu Berfirman, "Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku Perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong untuk menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". Al-Gofir / Al-Mu'min: 60﴿.
            Alloh memerintahkan berdo’a dan memperkenankan (mengabulkan) do’a. Betapa ruginya orang yang tidak mau berdo’a, terlebih setelah ṣolat. Dalam ayat lain Alloh SWT. berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَإِنِّيْ قَرِيْبٌ أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ﴿البقرة: ١٨٦
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila dia berdo’a kepada-Ku. Karenanya, hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran (bimbingan). Al-Baqoroh: 186﴿.
            Nabi Muhammad SAW. diperintah agar memberi tahu bahwa Alloh SWT. dekat dengan makhluk-Nya apabila ada yang bertanya tentang Alloh, dan apabila ada orang yang berdo’a maka pasti do’anya dikabulkan karena Alloh sangat dekat dengan makhluk-Nya.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴿ق: ١٦
Dan sungguh, Kami telah Menciptakan manusia dan Mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Qof: 16﴿.
            Alloh yang menciptakan manusia dan mengetahui bisikan hati setiap manusia. Berarti Alloh juga mengetahui do’anya manusia walupun cuma dalam hati karena Alloh sangat dekat dengan makhluk-Nya lebih dekat daripada urat leher. Siapa yang lebih dekat dengan makhluk daripada Alloh?. Jawabannya sudah tentu, tidak ada sutu makhluk pun yang lebih dekat kepada manusia daripada Alloh SWT.. Masih ragukah do’a tidak akan dikabulkan oleh Alloh?. Do’a apabila tidak dikabulkan di dunia niscaya akan dikabulkan di akhirat. Terkadang do’a itu dikabulkan oleh Alloh di dunia dan dipilihkan yang terbaik disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
            Sebelum berdo’a harap mengetahui kode etik supaya do’anya bisa terkabul. Perhatikan baik-baik kode etik berdo’a di bawah ini:
عَنْ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ الْجَنْبِيِّ، حَدَّثَنَا أَنَّهُ سَمِعَ فَضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ صَاحِبَ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَقُولُ: سَمِعَ رَسُولُ اللهِ ﷺ رَجُلًا يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ وَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "عَجِلَ هَذَا" ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ وَلِغَيْرِهِ: "إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ، ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ" ﴿مسند أحمد - ج ٣٩ ص ٣٦٣﴾
Dari ’Amr bin Malik Al-Janbiy, menceritakan kepadaku bahwa sesungguhnya ’Amr bin Malik Al-Janbiy mendengar Faḍolah bin ’Ubaid sahabat Rosululloh SAW berkata: Rosululloh SAW. mendengar seorang laki-laki berdo’a di dalam ṣolat dan tidak menyebut Alloh ’Azza wa Jalla dan (juga) tidak berṣolawat kepada Nabi SAW., maka Rosululloh SAW. bersabda: "Tegesa-gesa ini (laki-laki)". Kemudian Nabi SAW. memanggil laki-laki itu lalu bersabda kepadanya dan yang lain: "Apabila salah satu dari kalian selesai ṣolat maka mulailah dengan memuji Tuhannya, kemudian berṣolawat kepada Nabi, kemudian sesudah itu berdo’a sesuatu yang dikehendaki". Musnad Aḥmad Juz 39 Hal 363﴿.
            Kode etik dalam berdo’a yaitu:
a.     Memuji Alloh atau ḥamdalah dengan ucapan ALḤAMDU LILLÂHI ROBBIL ’ÂLAMÎN atau sejenisnya.
b.     Berṣolawat kepada Nabi Muhammad SAW. dengan ucapan ALLÔHUMMA ṢOLLI ’ALÂ MUHAMMAD. Ṣolawatnya diperpanjang lebih baik.
c.      Berdo’a sesuka hati.
d.     Ṣolawat lagi
e.     Ditutup dengan ḥamdalah.
Ḥadiṡ di atas jelas sekali membicarakan tentang berdo’a sesudah ṣolat. Jadi, jangan meninggalkan do’a setelah ṣolat. Nabi Muhammad SAW. bersabda:
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ، وَعِمَادُ الدِّينِ، وَنُورُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ ﴿المستدرك على الصحيحين للحاكم - ج ١ ص ٦٦٩
Dari ’Ali RAhum. berkata, Rosululloh SAW. bersabda: Do’a adalah senjata orang beriman, dan tiang agama, dan cahaya langit-langit dan bumi. Al-Mustadrok ’Alaṣ Ṣoḥiḥain Lil-Ḥakim Juz 1 Hal 669﴿.
Sangat banyak sekali manfaat do’a, baik setelah ṣolat maupun di waktu lain. Selalulah berdo’a kepada Alloh, pasti akan banyak anugerah yang di peroleh dari Alloh SWT..
Cukup sekian tulisan dari saya, semoga bermanfaat.